Etika Bersosial-media

Tidak adil memang, tinggal dan bernafas di zaman yang katanya “NOW”. Semua hal bisa ter-akses, sengaja dan tanpa sengaja. Kita dimudahkan dengan adanya teknologi-teknologi canggih. Gaperlu jauh-jauh datang ke korea, drakor-es sudah hafal seluk beluk kota metropolitan tersebut, mulai dari tanggal lahir aktris-aktor kesayangan, makanan khas sana, sampai sudut-sudut kota yang romantis menurutnya, hanya dengan memanfaatkan link search di aplikasi browser. Melalui live-instagram, yang berada di radius jutaan kilometer, atau yang tinggal di bagian bumi lain sekalipun bisa menyaksikan langsung bagaimana merdunya bacaan sholat imam masjidil haram ketika sholat, bagaimana rakyat Palestina, Suriah,Yaman, Rohingya melewati musim dingin di negara mereka, Sementara di negeri pelosok, masih banyak orang yang perlu belajar tentang etika bersosial-media.

Tidak adil memang, hal yang seharusnya bersifat privasi, kini menjadi bualan tanpa arti untuk para readers. kemudian si peng-apload membuat banyak alibi tentang pembenaran; “ini akun ig, pesbuk, twiter punya gue, hak-hak gue mau ngaplod apa. Bukan urusan lo” atau ada juga yang bilang “kalo lo ga suka aplotan gue, yaudah blokirin gue. Susah amat”. Yang paling parahnya, sosial media digunakan sebagai tempat mengumbar aib orang. Mungkin mereka belum tahu bahwa orang yang suka mengumbar aib adalah orang yang dirindukan neraka.

Tidak adil memang, para ilmuan bersusah payah mengembangkan teknologi, kekurangan jatah tidur, jangankan hang-out bisa makan ayam geprek di lesehan biasa saja Alhamdulillah banget, menepis keinginan untuk bertemu keluarga demi mengembangkan teknologi yang menjadi persaingan di era modern. Sementara di kolom komentar para aktris ada ribuan komentar menghujat, memaki, merendahkan. Ada lulusan sarjana juga yang tidak mau kalah, berbagai status kebencian ia layangkan, saling sindir tentang utang yang belum dibayar ada dimana-mana apalagi hanya sekedar rebetuan pacar. bisa-bisa aib yang paling aib pun di-apload tanpa ragu. Mungkin ini gara-gara facebook yang selalu bertanya “apa yang kamu pikirkan hari ini?” bukan menasehati “jangan menulis sesuatu yang tidak bermanfaat”.

Di satu sisi manusia adalah makhluk yang memprioritaskan kenyamanan, yang mana masing-masing dari kita butuh untuk dimengerti. Di satu sisi juga, manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan. Jadi tidak perlu heran sebenarnya, jika ada banyak sekali status kebencian, saling sindir, tentang aib, masalah pribadi, rumah tangga, muncul di beranda facebook, Instagram atau tweeter. Karena itu hanyalah satu cara si peng-apload untuk menarik perhatian, kalau mereka ingin dimengerti.

Tidak adil memang, orang yang tidak beretika menjadikan media social sebagai wadah curhatan isi hati. Sementara si -mau menjadi baik harus memperkuat diri untuk tidak meng-gibah tentang apa saja yang baru ia baca di beranda facebook atau Instagram. “kalau tidak suka yang di blokir, di anfolou, jangan ribetin lah” begitu katanya.

Advertisements